Apa Itu Rare Earth Diincar Dunia yang Terkandung Pada Timah Bangka?

Apa Itu Rare Earth Diincar Dunia yang Terkandung Pada Timah Bangka?

Apa Itu Rare Earth Diincar Dunia yang Terkandung Pada Timah Bangka?

Apa Itu Rare Earth Diincar Dunia yang Terkandung Pada Timah Bangka? – Dikutip dari Cal-graf.com, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan timah Bangka mengandung rare earth (tanah jarang) yang diincar dunia saat ini.

Sebagai daerah kaya timah, Luhut meminta Gubernur Babel Erzaldi dapat memasarkannya secara online.

Erzaldi mengatakan Bangka Belitung akan membangun pabrik hilirisasi timah sehingga yang dijual bukan timah batangan tetapi produk berupa solder atau bubuk.

Dia memastikan proyek timah itu akan segera berjalan.

Pihaknya telah bekerja sama bersama perusahaan asal China, Sinomach-He selaku investor di Bangka Belitung.

Dosen pertambangan Universitas Bangka Belitung (UBB), Dr Franto menerangkan secara ilmiah mengenai rare earth.

“Ree (Rare Earth Elements) atau logam tanah jarang atau unsur tanah jarang adalah unsur kimia yang terdiri dari 17 unsur berdasarkan tabel periodik,”kata Dr Franto saat dihubungi.

Menurutnya kehadiran Ree tersebut di pulau Bangka tentunya sangat besar alasannya sebab kehadiran Ree sangat identik dengan keterdapatan timah.

“Ree tersebut umumnya dibawa oleh mineral-mineral monasit, xenotim dan zircon. Sedangkan mineral 3 mineral tersebut umumnya merupakan senyawa ikutan timah yang sering kita kenal dengan istilah tailing,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan artinya kalau melihat sejarah penambangan di Pulau Bangka sudah sejak abad 18 bahwa penambangan timah yang telah  dilakukan saat itu hanya terfokus pada bijih timahnya saja, sedangkan mineral ikutannya atau tailing belum dimanfaatkan sama sekali.

“Sejak era teknologi yang luar biasa saat ini maka kebutuhan Ree mjd meningkat khususnya utk elekronik (hp, baterai, lensa kamera dan lain-lain),” ucap Dr Franto.

Terkait pengelolaan timah sekarang ini timah terfokus sebagai menaikan kadar logam Sn dan perolehannya atau recovery karena berkaitan dengan harga jual, semakin tinggi kadarnya semakin mahal harganya.

“Kalo dari aspek teknologi, saya belum tau banyak bagaimana industri tambang mengikutinya, tetap prinsipnya pengelolaan adalah bagaimana menaikkan kadar dan recoverynya. Disitulah biasanya teknologi mengikuti, tetapi perlu diingat bahwasanya tailing pun masih tetap ada. Karena prinsipnya kehadiran timah selalu diikuti dengan mineral ikutan yang saat ini menjadi incaran utk pemenuhan kebutuhan industri elektronik,”papar Dr Franto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *