Bulutangkis di Ancol dan Sepi Wisata Ibu Kota

Bulutangkis di Ancol dan Sepi Wisata Ibu Kota

Bulutangkis di Ancol dan Sepi Wisata Ibu Kota

Bulutangkis di Ancol dan Sepi Wisata Ibu Kota. Pada pagi hari Reza Shefreul terlihat sangat menikmati permainan bulu tangkis dengan kedua anaknya yang ditemani embusan angin dari pantai di Taman Impian Jaya Ancol, suatu kenikmatan yang nyaris tak tersentuh selama tiga bulan terakhir.

Tentu dengan kondisi berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Kini ia dan anaknya mengenakan masker, sementara botol handsanitizer pun terletak tak jauh dari tas raketnya. Tidak ketinggalan juga, bekal makan dan minum yang dibawa dari rumah.

Seluruh protokol ini menandakan bahwa Reza dan keluarganya kini tengah berada di situasi new normal.

“Tiap weekend sering ke sini (Ancol), ini baru setelah tiga bulan kami datang lagi,” kata Reza.

Selain sejumlah perangkat yang ia bawa, kebiasaan baru yang harus ia lakukan di masa-masa new normal ini adalah pemesanan online. Untuk datang ke Ancol, Reza mengaku sudah melakukan reservasi online sejak hari Kamis.

Ancol sendiri baru resmi dibuka untuk umum pada hari Sabtu 20 Juni. Sebelumnya Ancol tutup selama kurang lebih tiga bulan sejak masa pandemi virus corona (Covid-19) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menerapkan Masa Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Untuk bisa memasuki salah satu destinasi wisata teramai di Jakarta ini, sekarang masyarakat wajib melakukan reservasi online melalui situs resmi sebelum hari keberangkatan. Ini dilakukan untuk mengendalikan jumlah pengunjung yang datang.

Di masa new normal, pembatasan jumlah kapasitas pengunjung memang jadi protokol baru. Baik restoran, pusat perbelanjaan, tempat kerja, hingga tempat wisata juga menerapkannya.

“Mekanismenya pengunjung harus reservasi online, ini dengan niat baik supaya bisa memantau jumlah pengunjung,” ujar Humas Ancol, Rika Lestari.

Pengelola Ancol sendiri juga akan membatasi jumlah pengunjung hingga 50 persen, sementara kapasitas maksimal mencapai 150 ribu pengunjung.

Untuk sementara pengunjung Ancol pun hanya diperbolehkan untuk warga dengan KTP DKI Jakarta.

“Jadi memang akan ada kuota pengunjung supaya di dalam (Ancol) bisa saling menjaga jarak,” kata Rika.

Pembayaran pun dilakukan melalui reservasi online, sehingga pengunjung yang datang cukup menujukan tiket reservasi online yang akan dikirimkan melalui email.

Untuk batasan umur, pengunjung maksimal berusia 60 tahun masih diizinkan datang dan berolahraga. Itu pun harus dalam keadaan sehat.

Selama masa PSBB transisi, tempat wisata ini akan membuka layanan mulai pukul 06.00 WIB hingga 20.00 WIB, tapi pintu masuk akan ditutup pada pukul 18.00WIB.

Sepanjang jalan di Ancol pada pagi hari terlihat banyak pengendara sepeda melintas. Warga yang berkumpul dengan keluarganya duduk-duduk di pinggir pantai sambil menyantap bekal yang sudah disiapkan dari rumah.

Selain Reza, Ericka Kusuma juga menikmati Ancol untuk kali pertama sejak tiga bulan terakhir. Ia asik mengayuh sepedanya dari kawasan Sentiong Jakarta Utara bersama beberapa kawan.

Ia terlihat memakai face shield dan sarung tangan serta masker. Di tas pinggang kecilnya, tergantung botol handsanitizer kecil dan botol minum.

“Saya sering olahraga biar tubuh fit, yang penting jaga jarak, pakai pelindung kesehatan,” katanya.

Meski telah dibuka, kawasan wisata ini masih terhitung sepi pada pagi itu. Hanya beberapa orang terlihat berolahraga, beberapa lainnya bertamasya dengan keluarga.

Di beberapa titik dekat bibir pantai, tersedia wastafel untuk cuci tangan dilengkapi dengan sabun cuci tangan. Pada beberapa pos penjagaan pantai juga sudah disediakan handsanitizer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *